Article

How to Handle You Difficult Emotions

Emotional Hijacking

  • We feel before we think
  • When danger is sensed, we react emotionally first
  • When what we sense reminds us of a past threat, we react with the same intense emotions; we may not even be aware of the memory that has been triggered.
Step One: Turntoward your emotions with acceptance
  • Saat kita menyadari emosi yang kita rasakan → perhatikan reaksi tubuh kita.
  • Kita mungkin merasakannya sebagai sakit perut, tenggorokan seperti tersedak, jantung berdebar, atau ketegangan di suatu tempat.
  • Duduklah dengan kemarahan, kecemasan, depresi, kesedihan, rasa bersalah, kesedihan, rasa malu, atau emosi apa pun yang Anda alami → SADARLAH DAN JANGAN MENGABAIKANNYA. 
  • Jika ini sulit, bangun dan berjalan-jalan atau minum secangkir teh.
  • KUNCINYA adalah tidak mendorong emosi menjauh.

Step Two: Identify and label the emotion

  • Daripada mengatakan, “Saya marah”, KATAKAN,“Ini kemarahan” atau, “Ini adalah kecemasan.” → Dengan cara ini, kita mengakui adanya emosi tsbt, sekaligus membuat kita untuk tetap terlepas dari emosi tsbt.
  • Ketika kita dapat mengidentifikasi dan melabeli emosi maka dapat mengurangi rasa tidak nyaman.
  • Daripada kalau kita berusaha melawan, akan menjebak kita di masa lalu → hanya akan membuat kita menyalahkan diri sendiri terus menerus → ”Kalau saja aku melakukan sesuatu yang berbeda, mungkin akan ada hasil yang berbeda.”

 Step Three: Accept your emotions

  • Ketika kita merasakan emosi tertentu, jangan menyangkalnya. Akui dan terima bahwa emosi hadir, apakah itu kecemasan, kesedihan, kesedihan, atau apa pun yang kita alami pada saat itu.
  • Melalui penerimaan penuh, kita dapat merangkul perasaan yang sulit dengan belas kasih, kesadaran, dan pemahaman terhadap diri kita atau orang lain.

 Step Four: Realize the impermanence of your emotions

  • Setiap emosi tidak permanen!
  • Biarkan diri kita menyaksikan dan amati emosi (as a clouds in the sky or express train) dengan fokus dan kesabaran,amati perubahannya, dan makin lama akan menguap.
  • Untuk menerima proses ini, tanyakan pada diri Anda:
    • “Apa dan saat apa perasaan ini muncul?”
    • “Apa yang saya butuhkan sekarang?”
    • “Bagaimana saya bisa memeliharanya?”
    • “Apa yang bisa saya lakukan?”
    • “Apa yang bisa dilakukan sahabat saya untuk saya?”

Step Five: Inquire and investigate

 

  • Setelah kita menenangkan diri dari dampak emosi, luangkan waktu sejenak untuk menyelidiki secara mendalam dan mengeksplorasi apa yang terjadi.
  • Tanyakan pada diri Anda pertanyaan-pertanyaan berikut:
    • “Apa yang memicu saya?”
    • “Apa yang menyebabkan saya merasa seperti ini?”
    • “Apa ketidaknyamanan yang saya alami dan di mana itu timbul?”
    • “Apakah itu sebagai akibat dari pikiran kritis saya, atau apakah itu sebagai reaksi terhadap sesuatu yang dikatakan atau dilakukan orang lain?
    • “Mungkin Anda mengalami hari yang berat di tempat kerja atau kesulitan berurusan dengan keluarga Anda.”
    • “Mungkin Anda merasa tidak dihargai, kesepian, atau terputus sebagai akibat dari interaksi Anda dengan seseorang.”
  • Apa pun penyebab atau pemicunya, lihatlah dengan cermat dan tanyakan pada diri Anda apa yang terjadi di sini.
  • Apa harapan Anda seputar situasi ini?
  • Apa reaksi atau penilaian yang menyebabkan Anda menjadi marah atau cemas? Apakah ini pola yang terus muncul?

Step Six: Let go of the need to control your emotions

  • Kunci untuk menangani emosi yang sulit adalah melepaskan kebutuhan untuk mengendalikannya.
  • Sebaliknya, bersikap terbuka terhadap hasil dan apa yang ada di depan kita.