Article

Attachment (Kelekatan) yang sehat antara orangtua dengan anak

Attachment (kelekatan) adalah kecenderungan anak atau individu untuk mencari dan berusaha mempertahankan kedekatan hubungan fisik dan ikatan emosional yang kuat pada individu lain tertentu secara resiprokal (timbal balik) yang mempunyai nilai kelangsungan hidup bagi anak atau individu tersebut. Hal ini memungkinkan anak mempunyai perasaan aman, nyaman dan terlindungi.

Menurut Cassidy (dalam Wilson dan & Daveport, 2003), Bowlby membedakan tiga aspek attachment menjadi:

  • Attachment Behavior, attachment behavior atau perilaku attachment adalah tindakan untuk meningkatkan kedekatan pada figur lekat. Anak akan membuat kontak mata, menangis, atau membuat gesture (sikap tubuh) sebagai cara untuk mendekati orang tua mereka.
  • Attachment Bond, attachment bond merupakan suatu ikatan afeksi; ikatan ini bukan diantara dua orang, namun suatu ikatan yang dimiliki seorang individu terhadap individu lainnya yang dirasa lebih kuat dan bijaksana. Individu dapat melekat pada seseorang yang tidak terikat dengannya. Affectional bonds yaitu ikatan yang secara relative kekal dimana pasangan merupakan seseorang yang unik dan tidak dapat tergantikan oleh orang lain. Hubungan ini ditandai dengan adanya kebutuhan untuk mempertahankan kedekatan, distress yang tidak dapat dipahami saat perpisahan, senang atau gembira saat bertemu, dan sedih saat kehilangan. Ikatan ibu-anak, ayah-anak, pasangan seksual, dan hubungan saudara kandung serta teman dekat adalah contoh affectional bonds. Hubungan ini digerakkan oleh sistem perilaku tambahan, seperti reproduktif, pengasuhan, dan sociable system (Ainsworth, Greenberg, & Marvin dalam Lemme, 1995).
  • Attachment Behavioral System, attachment behavioral system merupakan suatu rangkaian perilaku khusus yang digunakan individu. Bowlby melihat bahwa attachment berakar dalam sebuah sistem yang disebut dengan attachment behavioral system yang ia yakini berkembang secara universal di semua spesies. Tujuan attachment system adalah untuk mencapai kedekatan antara orang tua dan anak, meningkatkan perlindungan dan kelangsungan hidupnya. Bowlby berpendapat bahwa attachment behavioral system memberikan sebuah fungsi evolusioner karena dapat menyarankan perlindungan anak yang bergantung pada orang dewasa demi keselamatan.

Jenis Attachment Style

1. Secure Attachment

Secure attachment didefinisikan sebagai suatu keadaan dimana tidak adanya masalah dalam perhatian dan ketersediaan pengasuh. Adanya perasaan aman dalam hubungan dengan figur kedekatannya mengindikasikan bahwa bayi dapat mengandalkan pengasuh sebagai sumber yang tersedia untuk kenyamanan dan keamanan ketika dibutuhkan.

Secure attachment membantu bayi dalam mengeksplorasi dunia dan memperluas pengetahuannya akan lingkungan, karena dengan mengajarkan bayi bahwa ketika proses eksplorasi tidak berjalan terlalu baik maka bayi dapat mengandalkan pengasuhnya untuk menghilangkan rasa takutnya. 

Bayi dengan secure attachment percaya akan adanya ketersediaan pengasuh yang sensitif dan responsif dan sebagai hasilnya bayi akan berani untuk berinteraksi dengan dunia.

Bayi yang diklasifikasikan secure dapat menjadikan pengasuhnya sebagai secure base dalam bereksplorasi. Dalam menghadapi perpisahan, merupakan hal yang memungkinkan bahwa bayi akan memperlihatkan kesedihan secara terbuka dan bermain dapat menjadi cara untuk mengurangi kesedihan tersebut.

Bayi yang secure bersikap ramah terhadap orang asing, dan dapat juga merasa nyaman dengan orang asing selama masa perpisahan tetapi tetap saja terdapat suatu keinginan akan kenyamanan dari pengasuhnya yang lebih jelas. Ketika pada masa bertemu kembali dengan pengasuhnya, bayi yang secure akan mencari kedekatan atau kontak dengan pengasuh, bayi akan mempertahankan kontak selama dibutuhkan.

Meskipun bayi sedang tidak sedih, sebagian besar bayi secure cukup responsif pada kembalinya pengasuh, akan menyambut dengan senyum, mengeluarkan suara – suara dan memulai suatu interaksi.

Secure Attachment akan terbentuk apabila anak mendapatkan perlakuan yang hangat, konsisten dan responsif dari pengasuh.

Kepribadian anak yang secure ketika dewasa akan lebih mudah untuk mengungkapkan kekurangan – kekurangan dalam dirinya. Selain itu juga anak yang secure akan lebih mengingat masa – masa kecilnya yang menyenangkan.

Attachment style juga selalu dikaitkan dengan romantic attachment styles pada saat dewasa yaitu dimana secure attachment dalam suatu hubungan akan didasari dengan kepercayaan, kepuasan, komitmen dan kemandirian

2. Insecure Attachment

Bayi yang memiliki insecure attachment tidak mengalami ketersediaan dan kenyamanan dari pengasuh yang konsisten ketika merasakan adanya ancaman. Keinginan akan perhatian tidak diatas dengan perhatian yang konsisten.

Dampak dari pengalaman semacam itu menghasilkan bayi menjadi cemas akan ketersediaan pengasuhnya, rasa takut akan tidak adanya respon atau respon yang tidak efektif ketika dibutuhkan. 

Mereka juga dapat menjadi marah pada pengasuhnya karena kurangnya respon kepada mereka. Ada kemungkinan berkembangnya reaksi marah pada bayi dikarenakan reaksi tersebut sebagai bentuk hukuman karena tidak responsifnya pengasuh dan kemungkinan reaksi tersebut sengaja dilakukan untuk mendorong pengasuh untuk lebih responsif.

Attachment yang dialami oleh seseorang di masa kecilnya akan berpengaruh kepada kepribadian di masa dewasanya. Kepribadian anak yang insecure di masa depannya akan tidak mudah untuk mengungkapkan kekurangan-kekurangan dalam dirinya.

Dan selain itu anak yang insecure akan lebih mengingat memori-memori yang tidak menyenangkan di masa kecilnya.

Kemudian attachment style selalu bekaitan dengan romantic relationship dimana insecure attachment akan memiliki hubungan yang kurang kepercayaan, kepuasan, sulit berkomitmen dan sering bergantung pada pasangannya. 

Terdapat tiga bentuk attachment yang tergolong juga dalam insecure attachment yaitu avoidant, ambivalent dan disorganized

  • Avoidant, bayi yang tergolong sebagai avoidant dengan pengasuhnya biasanya terokupasi pada mainan ketika sedang ada pengasuh. Bayi cenderung untuk tidak menunjukkan rasa berbagi yang efektif seperti tersenyum atau menunjukkan mainan pada pengasuh, meskipun bayi terkadang membutuhkan pengasuh hanya sebagai bantuan dalam alat – alat bermain. Dalam masa perpisahan bayi cenderung tidak menjadi sedih meskipun kesedihan akan muncul ketika sedang sendiri. Bayi dengan hubungan avoidant ketika berhadapan dengan orang asing akan memperlakukan mereka sama seperti bayi memperlakukan pengasuhnya bahkan pada beberapa kasus bayi lebih responsif pada orang asing. Ketika bayi bertemu kembali dengan pengasuh, bayi yang avoidant menunjukkan tanda – tanda sikap acuh, tidak melihat pengasuh, atau melewati pengasuh tanpa ada pendekatan kepada pengasuh. Ketika diangkat oleh pengasuh, bayi yang avoidant tidak akan membuat suatu usaha untuk mempertahakan kontak.
  • Ambivalent, hubungan Ambivalent akan terbentuk apabila pengasuh yang tidak konsisten antara bersikap yang baik dan juga meninggalkan bayinya. Bayi dibesarkan dalam hubungan yang ambivalen menjadi terokupasi dengan keberadaan Ibunya dan tidak dapat menyelusuri lingkungannya secara bebas dan menganggap Ibunya sebagai tempat yang aman. Bayi mencari kedekatan dan kontak dengan pengasuh bahkan sebelum adanya perpisahan, dan waspada akan situasi tersebut dan orang asing. Ketika bertemu kembali dengan pengasuhnya bayi cenderung menginginkan kedekatan atau kontak dengan pengasuh tetapi tidak dapat tenang meskipun sudah mendapatkan kontak. Bayi yang ambivalen menunjukkan suatu kepasifan, terus menangis tetapi gagal untuk mencari kontak secara aktif. pada sebagian besar kasus, inti dari klasifikasi ini adalah mencari hubungan atau kontak, kemudian menolak kontak ketika telah didapatkan.
  • Disorganized, tingkah laku dan respon dari bayi yang disorganized merupakan gabungan dari bentuk avoidant dan ambivalent. Anak menampilkan tingkah laku yang tidak tentu ketika sedang bersama dengan pengasuhnya, anak bisa sangat responsif tapi juga menghindar dan terkadang melakukan kekerasan. Bentuk disorganized merupakan akibat dari perlakuan orangtua sebagai figur yang menakutkan dan juga figur yang menenangkan. Anak merasa takut dan juga menemukan kenyamanan sehingga hasilnya membingungkan dan terbentuklah perilaku yang tidak teratur. Bentuk attachment ini tergolong bentuk perilaku yang dapat menuju kepada perilaku disorder.