Article

Apakah Anda Sering Sulit Tidur ?

Pasien dengan keluhan Insomnia atau sulit tidur mungkin merupakan pasien gangguan kejiwaan yang paling banyak ditangani oleh sejawat dokter baik umum maupun spesialis. Gangguan tidur ini memang paling banyak dikeluhkan dan sayangnya sering kali tidak ditangani dengan baik dan menyeluruh. Kasus-kasus insomnia sendiri sering kali lebih banyak diobati sendiri baik dengan obat-obatan bebas di apotek ataupun yang mencoba-coba sendiri dengan menggunakan obat psikotropika yang dibeli secara online/bebas di apotek “nakal”.

KENALI DASAR GEJALANYA. Insomnia ditandai oleh satu atau lebih gejala berikut, yakni: kesulitan memulai tidur, kesulitan dalam mempertahankan tidur, bangun terlalu cepat di pagi hari, dan tidur yang tidak menyegarkan.Banyak kasus insomnia yang fokus pengobatannya hanya pada gejala yang dirasakan pasien yaitu kesulitan tidur. Pasien bisa berbulan-bulan makan obat tidur yang merupakan golongan benzodiazepine.

Sayangnya lagi banyak pula pasien yang diberikan oleh dokternya hanya obat anticemas yang mempunyai efek mengantuk seperti alprazolam (dikenal dengan merk Xanax, Alganax, Zypraz dll). Memang pasien menjadi bisa tidur dengan nyaman, tapi apakah sempat terpikir mengapa kasus insomnia diberikan obat anticemas malah bermanfaat? Ini artinya ada masalah kecemasan yang menjadi dasar gejala insomnianya.

Beberapa pasien yang berani mencoba-coba sendiri lebih buruk lagi kondisinya. Awalnya berobat ke dokter tetapi kemudian membeli obat secara bebas sendiri. Ada juga pasien yang biasanya tidak mau menuruti anjuran dokter yang merawatnya, biasanya pasien seperti ini sebenarnya sudah ke psikiater tetapi ketika psikiater memberikan obat anti-insomnia dan obat antidepresan biasanya pasien hanya mau makan obat anti-insomnianya saja. Hal ini disebabkan karena efek antidepresan yang lebih lama dan tidak langsung terasa, berbeda dengan obat anticemas yang langsung terasa efeknya. Pasien juga perlu diberikan pemahaman bahwa pengobatan gangguan tidur akan membutuhkan waktu.

Masalah tidur yang sepertinya sederhana sebenarnya sangat kompleks. Perilaku dan kebiasaan seseorang juga sangat mempengaruhi masalah tidur pasien. Sering kali pasien tidak sabar untuk melakukan terapi untuk gangguan tidurnya dan akhirnya menyerah hanya dengan menggunakan obat tidurnya saja.Kasus gangguan tidur banyak disebabkan karena depresi dan cemas. Pengobatan gangguan insomnia yang didasari oleh masalah depresi cemas harus juga berkaitan dengan pengobatan gangguan depresi dan cemasnya. Pengobatan yang fokus pada gejala insomnianya saja tidak akan berhasil memperbaik secara baik gangguan tidurnya.

OBATI DASAR GEJALANYA.

Penanganan Insomnia tergantung dari penyebab gangguan tidurnya. Pada insomnia penanganannya terdiri dari dua bagian yaitu :

  1. Non farmakologik :
    1. Higene tidur  dengan cara:
      1. Memberikan lingkungan dan kondisi yang kondusif untuk tidur.
      2. Gunakan kasur yang lembut , tidak terlalu tebal, bantal yang empuk dan menyenangkan.
      3. Jadwal tidur-bangun dan latihan fisik sehari-hari yang teratur.
      4. Kamar tidur dijauhkan dari suasana tidak nyaman. Hindari gangguan fisik seperti cahaya, bising, panas atau dingin.
      5. Menghindari latihan fisik berat sebelum tidur.
      6. Tempat tidur jangan dijadikan tempat untuk menumpahkan kemarahan.
    2. Sleep Restriction Therapy. Terapi ini bermanfaat untuk pasien yang berbaring di tempat tidur tanpa bisa tertidur.
    3. Terapi Relaksasi.
    4. Biofeedback Therapy yaitu memberikan umpan-balik perubahan fisiologik yang terjadi setelah relaksasi.
  2. Farmakologis. Penting untuk disadari bahwa obat-obatan saja tidak akan membantu untuk mengatasi insomnia. Obat hanya sebagai pelengkap untuk membantu tatalaksana non-farmakologis.Penanganan insomnia ditujukan untuk mengoptimalkan dan memperbaiki kualitas hidup seseorang. Oleh karena itu penting untuk mencegah terjadinya insomnia yang berkelanjutan.

Semoga penjelasan singkat ini bisa membantu pembaca memahami lebih jauh tentang insomnia. Salam Sehat Jiwa !!

[ penulis : Dr.Anggia Hapsari, SpKJ(K) ]